Pengecekan Kain (Fabric Inspection): Pengertian dan Prosesnya
Kain merupakan material penting dalam pembuatan Garmen sehingga ketika akan membuat garmen maka hal pertama yang harus memperhatikan adalah kualitas kain.
Kain sangat menentukan kualitas dari garmen yang akan dibuat, semakin bagus (Tidak ada/kecil cacat kain) maka akan semakin baik pula kualitas garmen yang dihasilkan, begitu sebaliknya semakin banyak/tinggi cacat pada kain sudah tentu akan menurunkan kualitas dari gemen itu sendiri.
Untuk memastikan kualitas kain tersebut baik maka diperlukan pengecekan kain, pengecekan tersebut bertujuan untuk memastikan kualitas dari kain.
Pengecekan yang dilakukan seperti memastikan panjang dan lebar kain sudah sesuai (karena masih sangat berkaitan dengan proses berikutnya), memastikan adakah penyimpangan / cacat pada kain seperti :bowing/skewing, hole, crease mark, printing, snagging, pulling yarn dan lain-lain.
Alat kerja yang perlu disiapkan;
- Alat tulis (Bulpen, pencil, Spidol (lebih direkomendasikan).
- Metline (Penggaris pita/Pita ukur).
- Penggaris.
- Gunting.
Pengecekan pada kain gulungan/roll dibutuhkan mesin khusus dan biasa disebut dengan Fabric Inspection Machine cara kerja mesin ini yaitu dengan membuka gulungan kain (Roll Atas) dengan cara mengalirkannya dari atas ke bawah lalu menggulungnya (Roll Bawah) kembali setelah proses pengecekan selesai.
Perhatikan gambar dibawah ini.
Penjelasan pada gambar 1 diatas,
- Nomer 1 adalah penggulung roll kain bagian atas (nomer 1) bagian ini berupa besi yang dilapisi karet, bertujuan untuk menhantarkan gulungan kain dan mengalirkan ke bawah untuk diperiksa.
- Nomer 2 adalah kain yang di gulung pada sebuah roll.
- Nomer 3 adalah alat hitung panjang kain, cara kerja alat tersebut adalah pada bagian roda conter menghimpit kain sehingga ketika kain mulain menggulung ke bawah maka roda alat hitung akan secara otomatis berputar dan mengitung.
- Nomer 4 adalah penggulung roll kain bagian bawah bagian ini berupa besi yang dilapisi karet, bertujuan untuk menggulung kembali kain yang diperiksa pada sebuah roll.
- Nomer 5 adalah kain yang sudah di perikasa dan sudah di gulung kembali pada sebuah roll.
Proses pengecekan kain menggunakan mesin bisa dilihat pada video dibawah, sedangan pengecekan dibawah menggunakan 4 Point systems, perhitungan 4 Point system dijelaskan pada pembahasan berikutnya.
Cara pengecekan kain sebagai berikut:
- Ambil satu roll dari rak warehouse sebelum di inspect.
- Catat informasi di label per roll yang ada di form pemeriksaan fabric dan letakkan roll di mesin inspect.
- Potong fabric lebar penuh dengan 8”/1 yard jika roll fabric belum diambil untuk keperluan testing dan analisa di test lab/pemeriksaan shading/shringkage.
- Tandai potongan tersebut di sisi kanan dan kiri dengan informasi color/lot dan nomor roll-nya.
- Ambil alat ukur, kemudian ukur lebar kain di laporan pemeriksaan kain, kemudian bandingkan dengan label roll atau identitas keterangan lebar kain yang ditempel di roll kain.
- Atur kecepatan mesin sesuai dengan jenis kain.
- Hentikan mesin jika ditemukan cacat dan tandai yang cacat dengan sticker defect.
- Ambil/potong sample cacat untuk contoh visual.
- Dipertengahan roll lakukan pemeriksaan lebar kain dan pemeriksaan shadding test dalam satu roll dengan menggunakan potongan fabric awal.
- Jika menemukan masalah shadding, segera laporkan QA/QC Manager untuk segera ditindak lanjuti.
- Perhitungan Grade kain menggunakan 4 point system.
Prosedur Pemeriksaan Kain
Prosedur ini dilakukan untuk memastikan bahwa setiap gulungan kain (fabric) yang masuk ke area penyimpanan memenuhi standar kualitas sebelum dirilis ke proses pemotongan (cutting).
Tujuan Pemeriksaan
- Memastikan bahan kain (fabric) yang diterima dari vendor sudah sesuai dengan spesifikasi dan standar kualitas yang ditentukan oleh perusahaan maupun buyer.
- Menjadi panduan kerja resmi bagi petugas Quality Control (QC) dalam menjalankan proses pemeriksaan kain.
Petugas yang Terlibat
- QC Fabric: melakukan pengecekan fisik kain secara langsung di mesin inspeksi.
- Supervisor (SPV) QC Material: memantau jalannya pemeriksaan dan melakukan validasi data laporan.
Standar Acuan
Prosedur pemeriksaan ini mengacu pada Quality Control Manual yang berlaku di perusahaan.
Persiapan Pemeriksaan
Sebelum memulai inspeksi kain di mesin, petugas QC Fabric wajib menyiapkan dokumen dan peralatan berikut:
- Fabric Approval (sampel kain yang telah disetujui): acuan fisik untuk mencocokkan warna, tekstur, dan handfeel kain.
- Packing List Material: untuk memverifikasi nomor roll, panjang kain, dan berat kain yang akan diperiksa.
- Formulir Pemeriksaan Kain (Fabric Inspection Form) dan alat tulis: untuk mencatat setiap temuan titik cacat (defect) selama inspeksi berlangsung.
Menentukan Jumlah Roll yang Diperiksa
Ambil packing list, hitung total quantity, lalu tentukan jumlah dan roll mana saja yang akan diperiksa. Jumlah pemeriksaan (Fabric Inspection Quantity) adalah:
| Total Quantity | Jumlah yang Diperiksa |
|---|---|
| < 1.000 yds | 100% |
| 1.000 – 2.000 yds | 30% |
| 2.000 – 5.000 yds | 20% |
| > 5.000 yds | 10% |
Tim QC Fabric juga wajib meninjau Fabric Inspection Report (FIR) dari supplier sebelum dan sesudah pemeriksaan. Jika total poin cacat hasil inspeksi internal lebih besar dibandingkan FIR dari supplier, tim QC Fabric harus segera melaporkannya kepada tim Marketing.
Pengecekan Kelembapan Saat Kedatangan
- Pengambilan sampel: saat kain datang di dalam kontainer, diambil sampel 3 roll/ball secara acak (misalnya di dekat pintu, bagian tengah, dan bagian belakang kontainer).
- Proses cek: kain dicek di beberapa titik (ujung, tengah, depan, dan belakang) untuk menguji kelembapan, guna mengantisipasi kain yang basah, menyusut, atau rusak selama pengiriman.
- Jika ada sampel awal yang terindikasi lembap, inspeksi ditingkatkan dari 3 roll menjadi 100% (semua roll, misalnya 1.000 roll, harus dibuka plastiknya dan dicek kelembapannya satu per satu).
- Kain yang basah/lembap di luar batas standar harus dipindahkan ke Dryroom (ruang pengering) yang berada di area packing.
Tambahan Saat Pemeriksaan di Mesin
- Pastikan alat hitung panjang kain berada di posisi nol sebelum mulai.
- Jika menemukan kain cacat, potong bagian tersebut sebagai sampel sesuai jenis defect-nya.
- Catat setiap defect sesuai standar 4 point system.
Contoh Pemeriksaan Shadeband
Misalnya kedatangan fabric sebanyak 100 roll. Untuk pemeriksaan shadeband, sampel acak biasanya diambil 10% dari total barang, sehingga petugas lab mengambil 10 roll secara acak untuk dicek warna dan ukurannya di tiga titik, yaitu bagian awal, tengah, dan akhir gulungan saat proses unroll. Jika hasil cek pada 10 roll sampel aman dan masuk standar Grey Scale, seluruh 100 roll dianggap lolos (passed) dan bisa lanjut produksi. Namun jika ditemukan cacat warna atau tidak sesuai standar, seluruh lot kain langsung ditahan (hold) untuk dicek ulang atau dikomplain ke vendor.
Selesai Pemeriksaan
- Hitung rata-rata dari hasil perhitungan per roll, lalu nyatakan hasilnya:
- < 15 poin = Grade A (Pass)
- 16 – 20 poin = Grade B (Hold, menunggu konfirmasi dari QA Manager)
- > 20 poin = Grade C (Reject)
- Laporkan hasil pemeriksaan kepada QA Manager.
- Tandai kain yang sudah dicek dan letakkan di rak kain.
Fabric Inspection di Factory: Penanggung Jawab dan Proses Pelaksanaan
Fabric inspection adalah pengecekan kualitas fabric (warna, tekstur, dan jenis bahan) yang akan masuk ke produksi. Tujuannya untuk memeriksa cacat pada fabric. Penanggung jawab fabric inspection yaitu QA (Quality Assurance), SPV QC Cutting, Kepala QC (Quality Control), MD (Merchandiser), QA Manajer, dan Factory Manager. Sedangkan pelaksananya adalah Operator QC Fabric.
Proses Pelaksanaan
Saat material fabric masuk ke factory, operator mengambil 10% dari jumlah roll tiap lot per kedatangan fabric, lalu memeriksanya menggunakan mesin fabric inspection. Pengecekan awal meliputi warna, tekstur, dan jenis bahan, apakah sudah sesuai dengan sample presentation form dari buyer yang sudah di-approve.
Mesin fabric inspection
Jika sudah sesuai, pengecekan dilanjutkan dengan memeriksa apakah ada cacat pada fabric. Jika pada pengambilan 10% ditemukan cacat, pengecekan ditambah menjadi 20% dari jumlah roll tiap lot. Jika masih ditemukan cacat, operator melaporkan ke MD untuk menentukan langkah selanjutnya: apakah pihak supplier yang langsung mengecek material fabric, atau operator melanjutkan pengecekan 100% dari jumlah roll tiap lot.
Sample presentation form
Dokumen Acuan Pemeriksaan
Fabric Test Report. Dokumen ini menjelaskan lebih detail jenis fabric yang diinginkan oleh buyer. Dokumen dikirim oleh MD dan berisi nama buyer, style, file, color, jenis fabric, dan supplier. Fungsinya sebagai acuan spesifikasi kain untuk memastikan kesesuaian material yang diterima.
Fabric test report
Fabric Test Supplier. Dokumen ini berisi hasil pengujian material fabric dari pihak supplier dan dipakai sebagai acuan perbandingan saat pemeriksaan. Tujuannya memastikan spesifikasi material sudah sesuai standar sebelum masuk ke tahap produksi.
Fabric test supplier
Jenis Cacat Fabric (Defect Classification List)
Jenis-jenis cacat pada fabric dirangkum dalam DCL (Defect Classification List), misalnya knots/slub, needle line, oil stain, barre, snagging, dirt/stain, print defect, splicing, hole, crease mark, dan bowing/skewing. Contoh fisik setiap cacat dipajang di papan informasi sebagai referensi operator.
Beberapa cacat yang sering ditemukan antara lain baret (benang hilang secara vertikal), missing (benang hilang secara horizontal yang masih ditoleransi), slub (gumpalan serat), hingga kain bolong (hole). Setiap cacat diukur panjangnya untuk menentukan poinnya (1, 2, 3, atau 4 poin). Khusus kain bolong, otomatis dikenakan 4 poin (penalti maksimal), tidak peduli besar atau kecil ukurannya.
Defect classification list (DCL)
Fabric defect references swatches
Fabric color shadeband
Perhitungan 4 Point System
Cacat pada fabric dinilai dengan 4 point system berdasarkan ukuran cacat (dalam inci):
- 0–3 inci: 1 point
- 3–6 inci: 2 point
- 6–9 inci: 3 point
- Lebih dari 9 inci: 4 point
- Lubang (hole) dengan ukuran berapa pun: 4 point
- Jika dalam satu titik terdapat lebih dari satu cacat, yang diambil adalah point terbesar.
Berikut contoh papan Defect Identification 4 Point System:
Defect identification 4 point system
Rumus perhitungan point per 100 square yards:
Point = (Total Point Cacat × 36 × 100) ÷ (Panjang Roll Aktual (yard) × Lebar Aktual (inci))
Contoh: total point cacat = 29, panjang roll = 77,54 yard, lebar = 66 inci.
(29 × 36 × 100) ÷ (77,54 × 66) = 20,40 → FAIL
Kriteria kelolosan fabric (per 100 square yards): jika point kurang dari 20 maka dinyatakan PASS, jika lebih dari 20 maka dinyatakan FAIL. Fabric yang tidak lolos (FAIL) akan masuk ke Fabric Defect Storage.
Ketentuan kelulusan lainnya:
- Nilai akhir akumulasi cacat ditentukan per roll.
- Roll yang dinyatakan PASS masih bisa diproduksi setelah dibersihkan terlebih dahulu.
- Roll yang dinyatakan FAIL tidak boleh diproduksi dan langsung dimasukkan ke area CNCM (area karantina barang reject/kompromi bertanda merah). Barang di CNCM disimpan maksimal 3 bulan sebelum dimusnahkan/dibakar jika supplier menolak barang tersebut.
- Pengecualian: pada kasus tertentu, jika hasil kalkulasi menyatakan fail tetapi kerusakannya sedikit (misalnya bolong hanya di beberapa titik kecil), tim MD bisa memberikan kompromi/kebijakan khusus agar kain tetap bisa dijalankan ke produksi.
CNCM (Control of Non Conforming Material)
Tempat penyimpanan fabric yang tidak lolos disebut CNCM (Control of Non Conforming Material). Tujuannya mencegah pemakaian material cacat dalam proses produksi. Operator menandai material cacat dengan label khusus atau tanda reject, memisahkan fisik material tersebut ke area CNCM, lalu melaporkan hasil temuan kepada pihak terkait melalui Corrective Action Plan – CNCM Material Report.
Corrective action plan CNCM material report










Komentar
Posting Komentar
Terimakasih sudah membaca,
Kritik & saran yang membangun sangat kami hargai.